IMG_2239 - CopyBENIHPERTIWI.CO.ID – Bagi sebagian petani, panen melimpah adalah kunci utama untuk mendapatkan keuntungan optimal. Sehingga apapun dilakukan untuk mendapat hasil panen tertinggi. Baik perlakuan yang dianjurkan hingga yang berlebihan. Misalnya saja agar tanaman padinya hijau dan terlihat segar, maka dipupuklah dengan urea dosis tinggi bahkan jauh diatas normal. Alhasil tanaman tumbuh subur dan hijau, namun tanaman akan lebih rentan penyakit, rentan roboh dan hasil panen kurang bobot. Selain itu tentu akibatnya biaya produksi semakin tinggi.

Seringkali petani juga ikut-ikutan dalam melakukan kegiatan budidaya, tanpa memperhitungkan baik buruknya bagi lingkungan, hasil panen dan biaya produksi. Misalnya penggunaan obat-obatan dalam menanggulangi suatu hama atau penyakit, seringkali salah kaprah tanpa melihat bahan aktif dan dosis. Penggunaan bahan aktif yang salah akan mengakibatkan hama atau penyakit menjadi semakin resisten dan kebal terhadap obat-obatan. Alih-alih ingin membasmi hama penyakit malah membuat semakin kuat. Yang lebih mengkwatirkan bisa jadi membuat residu zat kimia terbawa hingga pascapanen.

Begitu pula dengan penggunaan air, para petani hendaklah bijak dan efektif menggunakan air. Misalnya, bagi daerah irigasi teknis, meskipun air berlimpah sebaiknya juga perlu memperhatikan kebutuhan air bagi tanaman khususnya padi. Tidak selamanya padi harus digenangi. Tanaman padi bukanlah tanaman air yang harus setiap hari digenangi. Tanaman padi hanya memerlukan kondisi tanah macak-macak atau kondisi tanah basah pada periode tertentu.

Bijak dalam budidaya tanaman merupakan salah satu langkah untuk menekan biaya produksi sehingga dapat mengoptimalkan keuntungan, menekan risiko kerugian, lebih ramah alam dan lingkungan sekitar.

BACA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter message.