BENIHPERTIWI.CO.IDDalam teori agribisnis, dikenal istilah hulu, onfarm dan hilir. Tiga bagian ini saling terkait dimana bagian hulu menyediakan segala keperluan untuk budidaya (onfarm), misalnya kios yang menjual benih, pupuk dan obat-obatan pertanian. Kegiatan onfarm merupakan kegiatan budidaya atau memproduksi suatu produk. Misalnya onfarm pada jagung manis berupa budidaya jagung manis. Sedangkan setelah dipanen kemudian dilanjutkan pada bagian hilir yang melakukan kegiatan pengolahan lanjutan seperti packing atau bisa juga langsung melakukan penjualan di pasar.

Menjadi Petani

Bagi pemula yang bingung ingin berusaha pada bidang agribisnis, setidaknya bisa memilih satu dari tiga bagian tersebut. Jika ingin menjadi petani, anda bisa memulai menanam komoditas yang laku dipasaran. Bertanyalah pada pedagang di pasar, jenis apa yang dapat diterima, waktu yang tepat untuk menanam, fluktuasi harga dan pastikan anda mempunyai pedagang yang siap menampung hasil panen.

Jangan latah menanam karena melihat teman berhasil menanam suatu komoditas. Karena harga dipasar selalu fluktuatif mengikuti jumlah stok di pasar, sehingga ketika saat ini harga jual tinggi belum tentu bulan depan akan tetap tinggi.   Selalu berpatokan pada pasar sebelum menanam.

karang ploso

Jagung Manis Talenta di Pasar Karang Ploso, Malang

Salah satu indikasi harga bisa anjlok pada saat panen adalah ketika banyak petani menanam satu jenis komoditas dalam waktu bersamaan. Hal ini bisa menimbulkan panen serentak dan menyebakan pasokan melimpah, akibatnya harga jual rendah.

Bisnis dalam budidaya tentunya mempunyai risiko, karena berkaitan dengan alam yang sulit untuk ditebak. Untuk awalan sebaiknya mencoba pada skala kecil dan mintalah panduan pada petani yang lebih senior. Memulai bisnis di onfarm bisa dimulai dengan  menyewa lahan tanpa perlu membeli tanah yang tentunya membutuhkan modal besar.

Meskipun menjadi petani mempunyai risiko tinggi, menjadi petani juga menjajikan jika  dapat dikelola dengan pemasaran yang baik. Petani cabai bisa menjadi kaya mendadak hanya dengan modal seperempat hektar tanaman cabai dan  jika harga cabai tembus Rp. 80 ribu per kilo. Coba saja hitung jika misalkan dalam sprempat hektar cabai berisi 4000 tanaman saja dan tiap tanaman menghasilkan 0.8 kg.  Maka tak kurang 3,2 ton cabai bisa dipanen. Nah, misal harga jual cabai Rp. 80 ribu maka pendapatannya adalah Rp. 256 juta.

Inilah sisi magnet dari pertanian, mendapat harga setinggi langit. Namun dengan catatan, biasanya harga tinggi hanya berlaku pada kondisi tertentu saja, misalkan pada saat kelangkaan stok di hari raya besar atau bencana alam .  Selebihnya tinggal bagaimana kita jeli melihat peluang pasar dan keterampilan dalam budidaya untuk menghasilkan potensi panen tertinggi.

Menjadi Pedagang

Lain halnya jika menjadi pedagang. Ada istilah bilang “yang namanya pedagang ga pernah rugi”.  Setuju?

Memang dalam prinsip umum para pedagang baik di hulu hingga hilir adalah “membeli semurah-murahnya dan menjual semahal-mahalnya.” Prinsip dagang adalah mencari margin atau selisih sebesar-besarnya antara nilai pembelian dan penjualan. Artinya ketika pedagang menjual suatu barang, pasti sudah dihitung dengan margin yang menguntungkan. Meskipun margin yang diambil sangat kecil, tetap saja pedagang tersebut untung.

Tapi apa benar menjadi pedagang selalu untung? tentu tidak dong. Banyak juga pedagang yang bangkrut karena dagangannya tidak laku. Apalagi dalam dunia pertanian, terutama sayur, menjadi pedagang sayur harus peka dan cepat dalam menawarkan barang. Terlambat menjual sayur, efeknya fatal. Bisa jadi sayur rusak, busuk dan tidak bisa dijual. Hal ini dikarenakan sayur merupakan salah satu produk segar yang tidak bisa disimpan lama dalam lingkungan normal.

Namun, coba yuk kita hitung bagaimana pendapatan seorang pedagang sayur yang menggunakan pick up kapasitas 1 ton.  Misalkan pedagang tersebut membawa sayuran jagung manis sebanyak satu ton dengan harga beli dipetani Rp. 2500. Kemudian dipasar dijual kembali dengan harga Rp. 3000. Pedagang tersebut mengambil untung Rp 500.  Jika dagangan dalam satu hari itu habis, maka total marginnya adalah Rp. 500 x 1000 kg = Rp. 500.000. Dipotong bensin Rp. 100rb, cicilan mobil per hari Rp. 100rb, makan dan rokok Rp. 100rb.

Maka sisa keuntungan bersih tinggal Rp. 200rb. Dalam sebulan berarti 26 (libur 4 hari) x Rp. 200rb = Rp. 5.200.000.  Dengan catatan pedagang tersebut hanya mengambil untung Rp. 500/kg. Bagaimana jika mengambil untung Rp 1000/kg dan menggunakan truk muatan 6 ton?

Tentu ada kurang lebihnya menjadi petani atau pedagang, masing-masing mempunyai risiko, masing-masing juga menawarkan keuntungan. Itulah rejeki untuk orang-orang yang selalu berusaha dan bekerja. Selamat mengembangkan agribisnis Indonesia 😀

BACA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter message.