IMG_6750 - Copy

Pembuatan Lubang Pupuk dapat Mengurangi Tingkat Kehilangan Pupuk Melalui Penguapan.

BENIHPERTIWI.CO.ID – Pupuk sintetis baik makro dan mikro berasal dari berbagai bahan kimia berbeda. Setiap bahan mempunyai daya larut dan daya serap berbeda.

Ada yang mudah larut saat bersentuhan dengan air, ada yang membutuhkan waktu lama untuk terurai, bahkan ada yang sangat mudah terurai hanya bersinggungan dengan udara dan suhu panas.

Misalnya, Urea yang mudah menguap dan mempunyai sifat higroskopis, yaitu sifat menyerap molekul air di udara sekitarnya. Jika Urea bersentuhan dengan air akan terurai menjadi Karbondioksida (CO2) dan Amoniak (NH3), kedua zat ini akan menguap dalam bentuk gas.

Jika urea ditebar diatas tanah dan tanpa penutup diatasnya, maka Urea akan menyerap molekul air disekitarnya. Akibatnya, urea akan terurai dan menguap menjadi gas. Penyerapan urea oleh tanaman pun menjadi tidak maksimal, karena sebagian besar terbuang menjadi gas.

Berbeda dengan pupuk unsur Phospor seperti SP36 yang mempunyai sifat tidak mudah larut dalam air dan reaksinya lambat. Oleh sebab itu pupuk P diaplikasikan saat pemupukan dasar pada awal penanaman, agar waktu terurainya tepat saat dibutuhkan tanaman.

Karena terurai lama, jika pupuk P diaplikasikan tanpa penutup tanah, maka risiko penguapan yang disebabkan udara panas dan pengairan akan semakin besar. Begitu juga dengan pupuk unsur Kalium seperti KCL yang mudah larut dalam air. Sehingga jika tidak ditutup, maka pupuk bisa hilang menguap menjadi gas.

Oleh sebab itu untuk mengurangi kehilangan pupuk akibat bersentuhan langsung dengan udara terbuka, sebaiknya pupuk ditanam kedalam tanah dan ditutup kembali agar tidak menguap. Selain mengefektifkan kegunaan pupuk, mempermudah akar tanaman dalam menyerap pupuk, juga dapat meningkatkan hasil tanaman.

BACA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter message.