Tumpukan Jagung dalam Karung Sebelum Dipipil

BENIHPERTIWI.CO.ID – Di Indonesia, umumnya jagung digunakan untuk bahan baku industri pakan ternak. Jagung mengandung nutrisi penting yang dibutuhkan ternak, seperti kalori, karbohidrat, protein, lemak, kalsium, besi, fosfor dan Vitamin B1. Dengan kelengkapan nutrisi yang terkandung di jagung, tak heran jika dalam konsentrat pakan mengandung komposisi jagung mencapai 50%.

Industri pakan sendiri mempunyai standar dalam mendapatkan bahan baku jagung bermutu. Salah satu faktor yang menentukan mutu jagung adalah penanganan pasca panen yang tepat. Jagung dengan kualitas baik sebelum dipanen bisa rusak jika penanganan pasca panennya asal-asalan.

Beberapa faktor yang perlu diperhatikan saat panen dan pasca panen adalah sebagai berikut :

Umur Panen

Bunga jantan dan betina muncul bersama pada umur sekitar 40 Hari Setelah Tanam. Umur panen bisa berbeda antar varietas, antar ketinggian tempat dan perlakuan budidaya. Namun umumnya  bakal buah akan berkembang menjadi tongkol jagung selama 7-8 minggu sejak berbunga. Ciri-ciri tongkol jagung yang siap dipanen diantaranya adalah biji keras dan kelobot 95% mengering.

Kadar Air 

Umur panen yang kurang tepat, seperti panen muda, akan menurunkan mutu jagung. Hal ini disebabkan karena jagung muda masih berkadar air tinggi. Padahal kadar air tinggi bisa memicu munculnya penyakit pasca panen seperti jamur dan busuk tongkol.

Panen bisa dilakukan dengan berbagai cara, baik secara manual maupun dengan mesin panen jagung. Apapun teknik yang digunakan, prinsipnya adalah menjaga kadar air tetap rendah dan dibuat serendah-rendahnya. Biji dengan kadar air rendah dapat meminimalisir serangan panyakit pasca panen, sekaligus meningkatkan harga ditingkat pedagang atau pengepul jagung.

Kadar air tinggi dapat memicu munculnya jamur tongkol

Umumnya jagung yang dipanen mempunyai kadar air 28-30%. Jagung dengan kadar lebih dari 40% dapat mengakibatkan biji jagung tumbuh, sedangkan kadar air 20-30% dapat memicu pertumbuhan jamur. Kadar air tinggi bisa disebabkan karena umur terlalu muda dan kondisi lingkungan yang lembab, seperti saat hujan.

Berbagai cara dapat dilakukan untuk mempercepat penurunan kadar air jagung, seperti melakukan pemotongan batang atas tanaman, dengan memperpanjang waktu panen di lapang, menggantung jagung di para-para saat musim hujan, atau dihamparkan dan dijemur dengan sinar matahari. Selain pengeringan matahari juga dapat dilakukan pengeringan dengan mesin berbahan minyak atau listrik.

Melihat pentingnya menjaga kadar air untuk mutu biji jagung, hendaknya segera dikeringkan untuk menghindari penurunan mutu. Terutama ketika jagung ditumpuk dalam karung dengan kadar air tinggi, selain memicu tumbuhnya cendawan, kadar air biji yang tinggi juga dapat menyebabkan biji jagung pecah saat pemipilan, menurunkan mutu dan harga jagung. Idealnya pemipilan dilakukan pada kadar air 18-20% dan dikeringkan kembali hingga kadar air 14% agar siap didistribusikan atau disimpan dalam gudang. Penyimpanan jagung juga perlu memperhatikan sirkulasi udara ruangan sehingga kelembaban dapat terjaga. Dengan penanganan tepat terutama saat panen dan pasca panen, maka kerusakan mutu jagung bisa diminimalisir.

Jagung Terkait : Pertiwi 2 | Pertiwi 3 | Pertiwi 6

BACA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter message.