Hamparan lahan semangka

BENIHPERTIWI.CO.ID  –  Rata-rata kepemilikan tanah pertanian di Indonesia dibawah 0.2 ha. Hal ini dinilai kurang ideal untuk menopang kehidupan sehari-hari. Termasuk bagi pemula di bidang pertanian yang tidak punya lahan, ladang atau sawah. Lantas dengan lahan terbatas tersebut, apakah kemudian tidak bisa bertani atau meningkatkan produksi?

Seperti pepatah bilang banyak jalan menuju Roma. Salah satu cara untuk keluar dari keterbatasan lahan adalah dengan sewa lahan.

Seperti yang banyak dilakukan petani semangka dan melon. Penamanan semangka membutuhkan areal yang luas. Rata-rata setiap petani menanam dengan luas diatas 2 hektar, padahal kepemilikan lahan petani sendiri sangat terbatas, bahkan tidak punya sama sekali.

Namun saat musim tanam semangka atau melon tiba yaitu di musim kemarau, lahan sawah yang menganggur disewa untuk ditanam semangka atau melon. Biasanya dalam sewa lahan ini, petani semangka atau melon akan berkelompok dengan lahan bersebelahan.

Keuntungan yang pertama dengan sewa berkelompok adalah keamanan tanaman. Semangka dan melon merupakan produk yang mempunyai nilai komersiil tinggi dan rawan pencurian. Sehingga dengan penanaman secara berkelompok bisa mengurangi tingkat kehilangan.

Dengan berkelompok, tukar informasi terkait ilmu budidaya bisa diterapkan bersama. Selain itu menanam tanaman sejenis secara bersama diyakini dapat mempermudah dalam pengelolaan hama penyakit, sehingga serangan hama penyakit tanaman dapat diminimalisir.

Tidak hanya pada produksi buah semangka dan melon, sewa lahan juga banyak diterapkan untuk komoditas lainnya meskipun tidak secara berkelompok. Seperti sewa lahan untuk bertani padi, jagung dan palawija. Petani yang mempunyai modal lebih akan mencari lahan lahan kosong yang akan digadaikan atau disewakan. Hal ini untuk meningkatkan produksi tanpa harus memiliki tanah pribadi.

BACA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter message.