BENIHPERTIWI.CO.ID – Saat tanaman masih kecil atau fase bibit, tanda – tanda serangan virus kuning dan keriting tidak terlihat secara kasat mata. Namun jika kita jeli, pada fase awal pertumbuhan tersebut justru akan ditemukan sumber pembawanya yaitu hama trips, tungau kutu kebul yang berada di balik daun.

Gejala serangan virus kuning atau keriting baru akan terlihat pada umur sekitar satu bulan setelah pindah tanam. Pertumbuhan tanaman yang awalnya terlihat sehat kemudian melambat dan berhenti, daun menguning dan mengeriting terutama pada bagian pucuk tanaman.

Serangan virus kuning dapat merusak tanaman hingga 50% bahkan gagal panen.  Oleh sebab itu dalam budidaya cabai perlu cermat dalam menangani salah satu momok kegagalan panen ini.

Lantas bagaimana cara mengendalikannya? 

1. Fase kritis untuk pengendalian adalah fase bibit, sehingga sebaiknya fokus pengawasan dan perlindungan dilakukan sejak pembibitan. Salah satu caranya adalah pembibitan ditutup menggunakan screen atau jaring halus. Hal ini untuk mencegah hama pembawa virus masuk dan menginfeksi tanaman. Pastikan tempat pembibitan aman dari hama pembawa.

2. Untuk mencegah dan memastikan keamanan pembibitan, pengendalian secara kimia bisa dilakukan secara rutin.  Tanaman disemprot menggunakan pestisida dengan bahan aktif imidaklropid dengan interval penyemprotan 1-2 kali seminggu.

3. Pengawasan perlu dilakukan secara teliti termasuk pada saat setelah pindah tanam. Pengendalian cepat perlu dilakukan saat terlihat hama pembawa virus berada disekitar tanaman cabai.

4. Untuk menekan perkembangan hama pembawa virus, gunakan mulsa perak agar dapat memantulkan sinar matahari ke balik daun, tempat hama berlindung dari cahaya.

BACA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter message.