Virus Gemini Menyebabkan Keriting pada Daun Melon.

BENIHPERTIWI.CO.ID - Salah satu momok dalam dunia permelonan adalah serangan gemini virus atau virus kuning. Dengan dampak pertumbuhan terhambat, kerdil, keriting, daun menguning hingga gagal panen. Penyebabnya adalah infeksi virus yang dibawa oleh kutu - kutuan, seperti thrips dan kutu kebul.

Dengan banyaknya kasus serangan dan kegagalan panen, akhirnya sekitar tahun 2015 mulai ramai melon tahan virus yang dikenalkan ke pasar. Sejak saat itu petani maupun pedagang mulai menggunakan benih yang dikenalkan sebagai benih melon anti virus atau tahan virus. Bahkan kemudian muncul kebiasaan di tingkat petani yang enggan menanam melon jika tidak menggunakan benih anti virus.

Seiring berjalannya waktu, ternyata masih muncul laporan serangan virus yang terjadi pada tanaman anti virus. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi ? Mengapa melon tahan virus masih terserang virus?

Sebenarnya produk benih yang dijual ke pasar merupakan benih yang sudah teruji mutu. Disini kita perlu memahami bahwa anti virus tidak sama dengan kebal virus. Kebal berarti 100% tidak bisa terserang virus, sedangkan anti masih ada kemungkinan terserang pada tingkat tertentu, jika intensitas serangan melewati ambang batas ketahanan varietas.

Umumnya ketahanan terhadap virus diukur dari gejala serangan perbandingan antar varietas, tanpa mengetahui level dari tingkat serangan tersebut. Jika kemudian varietas anti virus masih terserang virus, artinya intensitas atau level serangannya tersebut diatas ambang atau batas ketahanan varietas.

Lantas kalau begitu apa bedanya benih melon anti virus dan melon biasa jika masih terserang? Tentu berbeda, karena kalau kita menanam benih melon anti virus saja terserang, apalagi benih melon biasa. Menanam melon anti virus kalau terserang pun masih mempunyai peluang untuk bisa panen, dengan persentase lebih besar dibandingkan melon biasa, sedangkan menanam melon biasa atau non anti virus bisa jadi gagal panen total.

Dengan menanam melon anti virus setidaknya menjadi usaha kita dalam mengurangi kemungkinan tanaman terserang virus, selain dengan usaha lainnnya yang tak kalah penting untuk mengurangi tingkat serangan virus. Seperti contohnya : memutus rantai hidup virus dengan pola gilir tanam atau rotasi tanaman, pengendalian hama vector atau pembawa virus dengan melakukan penyemprotan insektisida secara tepat, melakukan olah tanah yang baik sebelum tanam, penggunaan pupuk kandang yang sudah matang dan juga aplikasi pupuk secara tepat sebagai sumber nutrisi yang dapat meningkatkan imunitas tanaman.