IMG_2302BENIHPERTIWI.CO.ID –  Budidaya cabe dikenal sebagai kegiatan budidaya kelas atas. Hal ini dikarenakan budidaya cabe memerlukan biaya produksi tinggi dan tingkat risiko yang tinggi pula. Petani cabe bisa kaya mendadak ketika mendapat harga tinggi, tapi bisa jadi bangkrut ketika mendapat harga rendah atau tanaman ludes terserang hama penyakit. Sehingga tak heran  jika biaya produksi cabe terhitung tinggi untuk biaya pengendalian hama dan penyakit.

Nah, sebenarnya yang paling penting dan seringkali menjadi momok budidaya cabe dalam hal hama penyakit adalah serangan kutu kebul dan antraknose. Berikut ulasan singkat tentang dua biang kerok penyebab gagal panen cabe tersebut:

1. Kutu Kebul

Namanya kutu kebul, jelas ini adalah sejenis hama kecil. Meskipun kecil, namun efeknya bisa membuat gagal panen. Salah satu gejala yang terlihat dari serangan kutu kebul ini adalah daun keriting terutama pada daun muda pada bagian atas. Daun yang terinfeksi berwarna kuning, serangan pada daun muda dapat menyebabkan kerdil dan tidak berkembang.

Kutu kebul merupakan vektor atau pembawa virus kuning / gemini virus, itu sebabnya pada gejala serangannya daun akan menguning. Hama ini mudah berkembang pada musim kemarau atau musim panas.

Pengendalian :
Kutu kebul sulit dikendalikan karena sulit terlihat. Oleh sebab itu dalam pengendalian kutu kebul perlu memperhatikan waktu yang efektif. Waktu yang paling tepat adalah saat fase nimfa. Pada fase inilah kutu kebul sudah aktif makan namun akan tetap menetap dalam satu tempat yang sama hingga menjadi imago.
Pengendalian dengan penyemprotan insektisida sistemik dengan bahan aktif Imidaclopride, Abamektin, Karbosulfan dapat dilakukan sejak umur 14 hari, lakukan penyemprotan setiap 10 hari sekali.

2. Antraknose / Patek

Gejala awal dari serangan jamur Colletotrichum capsici ini berupa bercak coklat kehitaman kemudian membusuk, buah tua yang terserang antraknose bisa cepat gugur.
Penyebaran antraknose melalui angin atau percikan air hujan. Oleh sebab itu biasanya penyakit antraknose seringkali dijumpai dan berkembang cepat pada saat musim hujan atau pada kondisi kelembaban tinggi.
Pengendalian :
Pengendalian akan lebih efektif jika buah yang terserang dibersihkan terlebih dahulu dari lahan, kemudian pengendalian kimia dapat dilakukan dengan penyemprotan fungisida dengan bahan aktif: Propineb, Mankozeb, Tebukonazol, Trifloksistrobin saat mulai berbunga setiap tiga hari sekali.

BACA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter message.