IMG_2022 - Copy

Jagung Hibrida Pertiwi 2, Tanaman Kokoh, Tongkol Panjang & Tahan Bulai

BENIHPERTIWI.CO.ID – Budidaya jagung bisa dibilang gampang-gampang susah. Gampang karena dibandingkan budidaya sayuran, budidaya jagung tidak memerlukan pengawasan extra setiap hari. Namun demikian, nyatanya tidak sedikit budidaya jagung mendapat hasil minim, terserang penyakit hingga gagal panen.

Sebenarnya bagaimana tips untuk mendapatkan hasil panen optimal? Secara umum setidaknya ada tujuh kunci sukses dalam budidaya jagung, seperti berikut ini:

1. Pemilihan Benih Hibrida Unggul.

Benih hibrida mempunyai produktivitas lebih tinggi dibandingkan benih jagung lokal atau komposit. Di pasaran banyak tersedia benih jagung hibrida aneka merek. Agar tidak bingung, salah satu tips memilih benih adalah pilihlah benih jagung yang berlabel dan bersertifikasi jelas. Salah satu tanda benih bersertifikat bisa dilihat dibelakang kemasan dengan label biru dan hologram asli dari perusahaan.

Kenapa harus mencari yang bersertifikat jelas? karena setiap benih bersertifikasi mempunyai nomer identitas lulus uji mutu dan jika suatu waktu ada masalah dengan tanaman dilapangan bisa dengan mudah dicari jejaknya dari nomer identitas tersebut.

Informasi karakter jagung perlu diperhatikan sebelum memilih benih. Informasi produktivitas, ketahanan terhadap penyakit dan keunggulan lainnya bisa menjadi pembanding. Misalnya jika di daerah tersebut endemik penyakit bulai, hendaknya cari benih jagung yang tahan bulai. Seperti Jagung Pertiwi-2, Pertiwi-3 atau Pertiwi-6.

2. Persiapan Lahan yang Baik

Prinsip utama dalam mempersiapkan lahan jagung adalah membuat lahan tidak mudah tergenang air, yaitu dengan membuat saluran drainage atau pembuangan air. Drainage ini bisa dibentuk melalui bumbum (meninggikan tanah disekitar pangkal batang) pada baris tanaman.

Selain itu sebaiknya lahan mempunyai tingkat keasaman (pH) 5,6 – 7,5, tidak ternaungi, areal memiliki persediaan air yang cukup dengan curah hujan merata (100-200 mm/bulan), kemiringan tanah tidak lebih dari 8%, ketinggian 0 – 1200 m dpl, struktur tanah gembur dan subur, tekstur lempung, lempung berpasir dan lempung berdebu.

3. Metode Tanam yang Tepat

Salah satu faktor yang mempengaruhi metode tanam tepat adalah jarak tanam. Jarak tanam menjadi penting karena seringkali menjadi masalah untuk pertumbuhan tanaman.

Jarak tanam terlalu rapat bagi jagung bisa membuat hasil tidak optimal. Tanaman berkompetisi dalam menyerap unsur hara dan cahaya. Oleh sebab itu perhatikan selalu petunjuk tanam yang disediakan oleh perusahaan produsen benih agar tidak salah saat menentukan jarak tanam yang tepat.

Faktor lainnya adalah kedalaman benih saat tanam dan jarak optimal dalam pemberian pupuk. Jika menanam benih jagung terlalu dalam akan menyebabkan tidak kuat untuk menembus tutupan tanah. Sehingga perlu diperhatikan kedalaman lubang ketika membuat lubang tanam.

Kedalaman tanam benih jagung idelanya sekitar 5 cm dari permuakaan tanah. Sedangkan jarak antara lubang pupuk dan lubang benih pada pemupukan pertama juga sekitar 5 cm. Pada pemupukan kedua, jarak lubang pupuk dan lubang tanam lebih lebar yaitu dengan jarak 10 cm, dan pemupukan ketiga dengan jarak 15 cm. Jarak lebih lebar untuk menyesuaikan pertumbuhan akar yang memanjang.

Agar tanaman tumbuh rapi dan mudah dalam pengawasan, sebaiknya saat tanam menggunakan tali (kenteng) untuk meluruskan barisan sesuai jarak tanam. Selain itu penutupan benih juga baik dengan menggunakan kompos atau abu (tanah berpasir & tanah liat). Jika ada benih tidak tumbuh, segera lakukan penyulaman agar populasi tetap optimal.

4. Pemupukan yang Tepat

Prinsip utama dalam pemupukan bisa diringkas menjadi empat tepat, yaitu tepat jenis, tepat dosis, tepat waktu, tepat cara.

Secara umum kebutuhan pupuk tanaman jagung adalah unsur makro N (Nitrogen), P (Phospat) dan K (Kalium), yang bisa disediakan dalam bentuk pupuk majemuk NPK atau dengan pupuk tunggal seperti Urea (N), SP36 (P) dan KCl (K). Untuk mendorong pertumbuhan juga bisa dengan suplemen tanaman (pupuk mikro) yang biasa diberikan melalui daun.

Dosis atau takaran juga perlu diperhatikan, agar tidak terjadi kekurangan atau kelebihan dosis. Jika kekurangan, maka akibatnya hasil panen tidak optimal sedangkan kelebihan dosis bisa menyebakan keracunan tanaman.

Waktu pemupukan yang tepat dapat membuat pupuk dapat diserap dengan optimal. Hal ini dikarenakan setiap jenis pupuk mempunyai sifat berbeda, ada yang mudah terurai dan ada pula yang membutuhkan waktu lama untuk terurai. Sehingga waktu aplikasi yang tepat dapat meminimalisir kehilangan dan memastikan ketersediaan unsur hara terutama pada waktu-waktu kritis, seperti fase vegetatif untuk pertumbuhan awal, fase generatif pembuangan untuk penyerbukan dan proses pengisian.

Cara memupuk juga perlu diperhatikan agar pupuk dapat terserap maksimal dan tidak terbuang percuma. Pupuk mempunyai sifat menguap, sehingga jika pemberian pupuk dilakukan dengan cara ditebar tanpa penutup maka sebagian unsurnya akan menguap dan tidak sempat terserap tanaman. Oleh sebab itu saat memupuk hendaknya menggunakan lubang pupuk dan ditutup kembali dengan tanah.

5. Irigasi dan Drainase yang Tepat

Tanaman jagung membutuhkan pengairan kritis pada periode tertentu, seperti saat penanaman, pertumbuhan vegetatif, pembungaan dan proses pengisian biji. Fase kritis terhadap air tersebut perlu diperhatikan terlebih saat musim kemarau.

Prinsip pengairan jagung adalah menjaga tanaman tidak tergenang air dan mendapat pengairan pada saat yang tepat.  Sehingga saat musim hujan bisa membuat sistem drainase agar tanaman tidak tergenang air dalam waktu lama (>48 jam).

Ciri tanaman jagung yang kekurangan air adalah daun menggulung dan warna daun mulai pucat. Sedangkan kelebihan air bisa menyebabkan daun menguning, pertumbuhan melambat dan juga penyakit seperti busuk batang pelepah mulai menyerang.

6. Pengendalian HPT dan Gulma

Apabila terlihat tanda-tanda serangan hama dan penyakit (HPT), maka segera aplikasi penyemprotan dengan insektisida atau fungisida sesuai anjuran.

Pengendalian gulma, bisa disesuaikan dengan waktu pemupukan. Biasanya untuk menghemat waktu dan tenaga, pemupukan dilakukan bersama dengan pengendalian gulma sekaligus untuk menggemburkan tanah. Jika gulma masih membandel, maka aplikasi penyemprotan herbisida bisa dilakukan.

Aplikasi herbisida harus memperhatikan stadia pertumbuhan tanaman. Aplikasi herbisida pertama dapat diberikan sebelum tanam. Efektif dilakukan umur ± 15 hst dan bersamaan dengan gulud (bumbun), pada pemupukan susulan pertama (21-25 hst) dan susulan kedua (42-45 hst).

Jika jumlah gulma sudah terlalu banyak dapat dikendalikan dengan herbisida kontak maupun sistemik. Aplikasi herbisida kontak dapat dilakukan pada tanaman jagung minimal umur 35 hst dengan nosel bercorong.

7. Metode Panen dan Pascapanen yang Tepat

Ciri tongkol jagung siap panen adalah klobot kering berwarna coklat (95% dari total populasi), kadar air 28 – 30 %, rambut tongkol kering hitam dan klobot mengering.

Waktu panen yang tepat akan meminimalisir penurunan mutu biji. Saat panen, tongkol dipertahankan tetap kering karena kalau basah dapat meningkatkan serangan jamur (toksin) dan biji busuk.

Hasil panen dikumpulkan dalam karung untuk dikeringkan atau langsung dipipil. Setelah panen, jika tongkol Jagung sudah kering pipil ( KA ± 30% ) bisa langsung dipipil, namun jika masih basah sebaiknya dikeringkan dahulu. Gunakan mesin pipil yang tepat untuk mendapatkan hasil pipilan yang baik.

Penyimpanan jagung kadar air tinggi di karung dalam jangka waktu lama (2-3 hari) dapat meningkatkan biji tumbuh, serangan jamur dan biji busuk. Saat penyimpanan perhatikan ketebalan tumpukan karung atau saat penjemuran perhatikan ketebalan hamparan tongkol agar tidak terlalu lembab.

Penyimpanan jagung memerlukan kadar air rendah (KA 17%). Setelah jagung bersih dan berkadar air rendah, dapat disimpan atau diolah menjadi produk turunan jagung.

BACA LAINNYA

1 Response Comment

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter message.