Aplikasi IoT dalam Pertanian (Foto: www.modpow.es)

BENIHPERTIWI.CO.ID –  Internet of Things atau IoT merupakan konsep yang menghubungkan manusia dan peralatan disekitarnya dengan menggunakan internet.

Tujuannya untuk memperluas pemanfaatan konektivitas internet yang tersambung secara terus menerus sehingga bisa digunakan dalam berbagi data atau remote pada benda nyata, seperti bahan pangan, elektronik, peralatan apa saja, bahkan mahluk hidup yang ditanamkan sensor.

Meskipun terdengar seperti cerita fiksi, namun konsep ini sudah bisa kita manfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya, ketika remote AC atau televisi rusak, ternyata bisa digantikan oleh smartphone yang sudah diinstall aplikasi remote tersebut. Selama di dalam peralatan terdapat sensor yang terhubung dengan internet, maka peralatan tersebut bisa dikendalikan dengan sebuah aplikasi.

Lantas bagaimana dengan IoT di dunia pertanian?

Perkembangan teknologi pertanian didorong untuk terus meningkatkan efisiensi. Teknologi pertanian sebenarnya sudah menjadi standar sejak ratusan tahun lalu. Hal ini bisa dilihat sejak revolusi industri pada tahun 1800, dimana pupuk kimia dan traktor bertenaga gas mulai digunakan. Perkembangan teknologi semakin pesat hingga tahun 1900an ketika petani sudah mulai menggunakan satelit dalam mengawasi lahan pertanian.

IoT dapat mempermudah pengawasan lahan produksi hanya dalam genggaman atau melalui smartphone. Dengan IoT ini perkembangan teknologi pertanian melangkah ke jenjang selanjutnya. Penggunaan IoT bisa mewujudkan pertanian presisi dan pertanian pintar. Penggunaan sensor yang ditetapkan di lahan pertanian memungkinkan petani mendapatkan informasi detail topografi, tingkat kesuburan, keasaman hingga suhu tanah, bahkan bisa mengukur cuaca dan memprediksi pola cuaca untuk beberapa hari mendatang.

Informasi tersebut merupakan variabel penting dalam mengatur pertumbuhan tanaman. Dengan mengetahui informasi secara akurat, petani dapat memberikan tindakan tepat, jumlah takaran pemupukan antar titik tanam bisa berbeda menyesuaikan kondisi tanah terhadap kebutuhan pemupukan. Titik kering yang membutuhkan pengairan bisa cepat terdeteksi dan segera dilakukan pengairan secara tepat.

Traktor-traktor bisa dihubungkan dengan satelit, sehingga bisa memetakan dan memberikan data suatu lahan dan prediksi hasil panen. Penggunaan drone untuk mengawasi lahan secara praktis, melakukan pemupukan dan penyemprotan pestisida. Dengan IoT peralatan tersebut bisa dikontrol melalui smartphone, sehingga petani bisa melakukan pekerjaan lainnya.

Tidak hanya di lahan produksi, perkembangan IoT untuk pasca panen pun sudah diterapkan. Beberapa supermarket modern sudah menerapkan IoT dalam kemasan produknya. Hanya dengan menscan QR Code pada kemasan melalui smartphone, konsumen dapat mengetahui detail informasi produk mulai dari harga, mutu produk hingga informasi petani sebagai produsen.

Mengutip laman businessinsider.com, Amerika Serikat (AS) memimpin dunia dalam pertanian cerdas IoT ini. AS melakukan efisiensi sehingga mampu menghasilkan 7.3 ton/ha serealia (seperti gandum, beras, jagung, barley dll) jauh lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata global 3.8 ton/ha serealia. Diperkirakan efisiensi AS akan meningkat dalam beberapa dekade mendatang karena pertanian menjadi lebih terhubung.

Lalu, bagaiman dengan IoT di Indonesia sendiri?

BACA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter message.