mesinpanen

Mesin Panen Padi untuk Meningkatkan Nilai Tambah Panen (Foto: Musolli S.)

BENIHPERTIWI.CO.ID – Beberapa survey menyebutkan bahwa terdapat penurunan minat generasi muda untuk terjun ke dunia pertanian. Berdasarkan lamanĀ  jurusanku.com menyebutkan hasil poling terhadap 4.421 siswa di 20 SMA swasta di 10 kota di Indonesia, siswa yang berminat mengambil jurusan Pertanian (termasuk peternakan, perikanan, dan kehutanan) hanya 0,3 persen atau 14 siswa.

Tentu hasil poling ini masih dirasa kurang mempresentasikan besar minat pelajar untuk menekuni bidang pertanian. Namun dari data tersebut setidaknya dapat memberi gambaran umum perspektif pertanian dimata generasi muda.

Hal ini juga dapat terlihat pada data BPS 2013 yang menyebutkan selama 10 tahun terakhir terdapat penurunan signifikan jumlah petani produktif di Indonesia, yakni turun dari 31.23 juta menjadi 26.14 juta orang. Petani produktif lebih memilih bekerja diperkotaan dibandingkan bekerja mengurus sawah dan ladang. Kondisi ini menjadi ironi ketika jumlah penduduk semakin berkembang, teknologi semakin maju, namun justru minat ke dunia pertanian semakin menurun.

Terlepas dari segala permasalahan yang dihadapi pertanian Indonesia, sepatutnya petani muda tetap tumbuh sebagai motor penggerak pembaruan pertanian modern. Yaitu pertanian yang berorientasi pasar dan inovasi teknologi dalam peningkatan hasil panen. Dengan demikian teknologi baru bisa segera diaplikasikan dan tidak hanya menjadi besi tua yang menumpuk karena sekali digunakan kemudian rusak dan tidak ada yang mengerti untuk memperbaikinya.

Pemuda yang mendapat kesempatan pendidikan lebih tinggi seharusnya menjadi jembatan bagi petani gurem dalam menterjemahkan program-program pemerintah. Petani muda seharusnya berperan dalam membantu pemerintah sehingga berbagai bantuan yang diberikan dapat tepat sasaran.

Setiap tahun pemerintah mengimpor berbagai komoditi pangan dan hortikultura, seperti beras, jagung, gula, kedelai, buah dan sayuran. Namun setiap tahun pula kita mendengar jeritan petani di desa yang sedang panen raya namun harga jual rendah, kelangkaan pupuk atau gagal panen karena serangan hama penyakit. Kenapa hal ini bisa terjadi? Ya karena tidak ada hambatan produk impor masuk ke Indonesia, selain itu pasar di Indonesia membutuhkan produk tersebut.

Mengapa Indonesia ? Ya karena jumlah penduduknya sangat besar dengan kebutuhan pangan yang besar pula, sehingga tak aneh Indonesia menjadi daya tarik serbuan produk impor. Jika negara lain bisa membaca peluang di negeri tercinta ini, lantas kenapa kita tidak memproduksi sendiri dan menjual di pasar dalam negeri? Kebutuhan pangan yang besar seharusnya menjadi peluang bagi pemasaran produk pertanian. Hal inilah yang menjadi ironi, kita bisa memproduksi namun tidak bisa menjual di pasar yang sebenarnya ada di dalam negeri dan menjadi incaran banyak negara.

Ada dua pilihan bagi generasi muda dengan perspektif yang muncul dari kondisi ini.
1. Ikut-ikutan meninggalkan pertanian karena dirasa tidak prospektif, sulit bersaing dengan gempuran produk impor atau kwatir dengan risiko alam dan fluktuasi harga.
2. Terjun ke dunia pertanian karena melihat tantangan dengan peluang pemasaran produk pertanian yang besar.

Pada perspektif pertama, sangat wajar meninggalkan pertanian karena dirasa tidak menguntungkan dengan ketakutan-ketakutan akan tantangan yang ada. Namun pada perspektif kedua, rasanya sangat tidak wajar jika peluang besar disia-siakan begitu saja oleh generasi muda. Ketika negara lain bisa mengambilan untung di negeri ini kenapa kita sendiri tidak bisa?.

Ayo berani menjadi petani Indonesia!

BACA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter message.