BENIHPERTIWI.CO.ID – Memasuki pertengahan tahun, sejak awal bulan Juni yang seharusnya masuk musim pancaroba atau musim peralihan dari hujan ke panas, namun ternyata di beberapa sentra produksi cabe, hujan masih sering turun. Kondisi dimana masih banyak turun hujan di musim kemarau disebut dengan kemarau basah.

Hadirnya hujan dengan intesitas tinggi sangat dikwatirkan petani cabai, karena tingkat serangan penyakit akan semakin tinggi pula. Akibanya produktivitas panen cabe menurun dan pasokan ke pasar menjadi terbatas. Ketika pasokan barang berkurang, sedangkan permintaan meningkat maka yang terjadi adalah harga cabai akan semakin tinggi. Inilah yang menyebabkan kelangkaan cabai dan membuat harga naik signifikan mencapai 80 -100rb/kg.

Hal ini pula yang kemudian menjadi sebab kenapa sambal dirumah menjadi kurang begitu pedas. Karena belanja cabai dikurangi akibat dari harga yang begitu mahal. Namun disisi lain kondisi ini menjadi kabar baik bagi petani cabai, karena momen langka harga cabai mencapai 100 rb/kg terjadi. Keuntungan berlipat menanam cabai bisa dinikmati bagi petani yang berhasil panen dikondisi kemarau basah.

Harga cabai yang tinggi diprediksi akan lama, karena petani tidak bisa menanam di area-area persawahan yang umumnya digunakan menaman cabai setelah musim padi usai. Hujan yang masih rajin turun menyebakan petani kwatir sawah akan tergenang air. Rencana tanam cabai bisa mundur atau bahkan tidak jadi tanam cabai jika kondisinya masih terus hujan.

Kurangnya penanaman cabai akan menyebabkan panen berkurang dan pasokan cabai ke pasar pun akan turut berkurang. Hal inilah yang mengakibatkan harga cabai tetap mahal untuk jangka panjang. Selamat bagi petani yang panen dikemarau basah ini.

BACA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter message.