Kangkung Air  
Kangkung Darat / Cabut

BENIHPERTIWI.CO.ID - Kangkung adalah salah satu sayuran hijau yang populer di banyak negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Terdapat dua jenis utama kangkung yang dikenal luas, yaitu kangkung air dan kangkung darat (juga dikenal sebagai kangkung cabut).

Kedua jenis kangkung ini menawarkan manfaat kesehatan yang serupa, tetapi perbedaan dalam habitat, ciri fisik, dan rasa membuat mereka cocok untuk berbagai jenis masakan dan metode budidaya. Berikut adalah perbedaan antara kedua jenis kangkung ini:

# Kangkung Air

Habitat dan Budidaya :

Umumnya tumbuh liar di lingkungan berair seperti sawah, parit, dan kolam.

Dapat tumbuh baik di air tergenang atau tanah yang sangat basah.

Ciri Fisik :

Batang berongga dan lebih tebal, yang membantu tanaman mengapung di air.

Daun lebih lebar dan hijau gelap.

Akar sering kali tumbuh di sepanjang batang, membantu penyerapan nutrisi dari air.

Tekstur :

Memiliki tekstur yang lembut.

Penggunaan Kuliner:

Sering digunakan dalam tumisan atau direbus sebagai sayur pelengkap hidangan utama.

Contoh hidangan: "Kangkung Tumis Belacan" atau "Plecing Kangkung."

# Kangkung Darat (Kangkung Cabut)

Habitat dan Budidaya :

Tumbuh di tanah, biasanya ditanam di kebun atau lahan pertanian yang tidak tergenang air.

Lebih toleran terhadap kondisi tanah yang kering dibandingkan kangkung air.

Ciri Fisik :

Batang beronggat namun lebih tipis dan padat.

Daun lebih sempit dan panjang, dengan warna hijau yang cenderung lebih terang.

Akar hanya tumbuh di bagian bawah batang. Karena biasanya kangkung darat dipanen muda (sekitar 25-30 HST) sehingga tidak sampai menjalar dan tumbuh akar di tiap ruasnya.

Umumnya budidaya kangkung cabut menggunakan benih komersial yang dijual di toko-toko pertanian, seperti contoh benih kangkung Bika atau kangkung Tornado dari Benih Pertiwi. 

Tekstur :

Tekstur lebih renyah.

Penggunaan Kuliner:

Digunakan dalam berbagai masakan tumis dan juga salad.

Contoh hidangan: "Kangkung Cah Bawang Putih" atau "Salad Kangkung."