BENIHPERTIWI.CO.ID – Setiap tanaman mempunyai waktu panen yang berbeda-beda. Misalnya sayur daun seperti kangkung, bayam, selada dan sawi, mempunyai waktu panen relatif cepat yaitu kurang lebih satu bulan atau 3 – 5 minggu setelah tanam (tergantung jenis dan varietas tanaman).

Sayuran daun tersebut termasuk panen cepat jika dibandingkan dengan tanaman yang dipanen tua seperti jagung, padi dan cabe. Rata-rata membutuhkan waktu panen sekitar 3-4 bulan. Perbandingan waktu antar jenis tanaman bisa dilihat pada gambar dibawah ini.

Gambar Perbandingan Umur Panen Antar Tanaman

Sebelum menentukan jenis tanaman yang akan ditanam, sebaiknya pelajari dulu karakter tanaman, seperti berapa lama umur panen. Hal ini penting, karena umur panen menentukan kapan tanaman tersebut harus dipanen. Jika terlambat atau terlalu cepat panen, apakah akan bermasalah dengan pasar atau tidak.

Misalnya ketika sudah menargetkan panen jagung manis saat tahun baru. Ternyata saat tahun baru, jagung manisnya belum siap panen atau malah sudah terlalu tua. Hal ini tentu akan merugikan jika saat tahun baru tersebut permintaan dan harga jagung manis sedang tinggi. Karakter jagung manis yang tidak tahan simpan lama juga perlu menjadi pertimbangan dengan mempersiapkan kepastian pasar sebelum panen.

Bagi petani, umur panen akan menjadi tolak ukur dalam menentukan waktu kapan mendapatkan hasil. Jika ingin cepat menghasilkan keuntungan, maka pilihannya adalah tanaman dengan panen cepat seperti sayuran daun. Jika ingin mendapat penghasilan lebih besar namun waktu panen yang lebih lama, pilihannya bisa sayuran yg dipanen muda dengan waktu panen sekitar dua bulan, seperti jagung manis, timun, gambas, pare, melon, semangka, kubis, kol bunga, kacang panjang dan buncis.

Begitu pula jika ingin menghasilkan pendapatan yang lebih besar, namun waktu panen yang lebih lama, hingga 3-4 bulan. Pilihannya bisa dengan budidaya tanaman yang dipanen tua, seperti jagung, padi, cabe, tomat atau terong. Meski umur panen lebih lama menawarkan keuntungan yang lebih, namun juga mempunyai risiko dan modal yang lebih tinggi pula. Oleh sebab itu agar tidak kecewa saat budidaya, pahami dulu kemampuan teknis, karakter tanaman dan pasar di wilayah setempat untuk meminimalisir kerugian dan mendapatkan keuntungan optimal. Semoga bermanfaat.

BACA LAINNYA

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter message.