Cara Menanam Jagung di Lahan Kering agar Tetap Produktif

BENIHPERTIWI.CO.ID - Lahan kering memiliki tantangan tersendiri untuk budidaya jagung. Ketersediaan air yang tidak stabil dapat memengaruhi perkecambahan, pertumbuhan vegetatif, pembentukan tongkol hingga pengisian biji.
Namun, lahan kering tetap dapat dimanfaatkan untuk produksi jagung apabila dikelola dengan tepat.
1. Tentukan waktu tanam
Waktu tanam menjadi salah satu keputusan terpenting. Jangan hanya berpatokan pada kalender. Perhatikan prakiraan hujan dan kondisi kelembapan tanah.
Benih membutuhkan kelembapan yang cukup untuk berkecambah. Menanam terlalu cepat pada tanah yang sangat kering dapat menyebabkan pertumbuhan awal tidak seragam. Sebaliknya, menanam terlalu terlambat dapat membuat tanaman memasuki fase kritis ketika air semakin terbatas.
2. Persiapkan tanah
Tanah harus mampu menyimpan air sekaligus memiliki drainase yang baik. Pengolahan tanah dapat dilakukan sesuai kondisi lahan. Hindari pengolahan berlebihan yang justru membuat struktur tanah rusak atau meningkatkan kehilangan air. Bahan organik juga dapat membantu memperbaiki struktur tanah dan kemampuan tanah menyimpan air.
3. Gunakan benih berkualitas
Benih menjadi faktor penting dalam menentukan populasi tanaman. Benih dengan mutu baik akan membantu menghasilkan pertumbuhan yang lebih seragam. Benih juga harus dipilih berdasarkan karakter varietas dan kondisi lahan.
Pada jagung hibrida Pertiwi, misalnya, tersedia beberapa pilihan varietas dengan karakter berbeda. Pertiwi-1 memiliki potensi hasil sekitar 12,83 ton/ha, sedangkan Pertiwi-5 dan Pertiwi-6 memiliki karakter serta potensi yang berbeda.
4. Atur jarak tanam
Populasi terlalu tinggi dapat meningkatkan persaingan antar tanaman terhadap air, cahaya dan unsur hara. Sebaliknya, populasi terlalu rendah dapat menyebabkan lahan tidak termanfaatkan secara optimal. Karena itu, jarak tanam perlu mengikuti rekomendasi varietas dan kondisi lahan.
5. Kendalikan gulma sejak awal
Gulma merupakan pesaing utama tanaman jagung dalam memperoleh air dan unsur hara. Pada lahan kering, persaingan tersebut semakin penting karena sumber air terbatas. Pengendalian gulma sebaiknya dilakukan sebelum gulma berkembang terlalu besar.
6. Kelola pemupukan
Pemupukan harus disesuaikan dengan kondisi tanah. Pupuk tidak akan bekerja optimal apabila tanaman mengalami kekurangan air yang berat. Karena itu, pemupukan harus memperhatikan kondisi kelembapan tanah dan fase pertumbuhan tanaman. Selain itu dalam memberikan pupuk juga jangan berlebihan karena hasil buahnya jadi semakin tidak baik.
7. Perhatikan fase kritis
Tidak semua fase pertumbuhan jagung memiliki kebutuhan air yang sama. Fase vegetatif, pembungaan, pembentukan tongkol dan pengisian biji perlu mendapat perhatian khusus. Kekurangan air pada fase pembungaan dan pengisian biji dapat berdampak besar terhadap hasil.
8. Lakukan monitoring rutin
Jangan menunggu tanaman menunjukkan gejala parah. Periksa tanaman secara berkala untuk melihat : daun menggulung, tanaman layu, pertumbuhan tidak seragam, serangan hama, gejala penyakit dan kondisi tanah.
Benih yang sesuai akan menjadi fondasi, tetapi pengelolaan budidaya tetap menjadi faktor utama untuk mencapai hasil optimal.